Press Release

Facebook Icon Twitter Icon Linkedin Icon

Influencer Marketing

Facebook Icon Twitter Icon Linkedin Icon

Influencer marketing bergeser dari strategi awareness menjadi ROI di seluruh APAC

Laporan terbaru AnyMind Group menunjukkan bahwa influencer marketing kini mendorong kepercayaan, minat beli, dan optimalisasi ROI, mengubah cara merek melakukan pendekatan terhadap pertumbuhan berbasis commerce.

AnyMind Group [TSE:5027], sebuah perusahaan BPaaS untuk pemasaran, e-commerce, dan transformasi digital, telah merilis State of Influencer Marketing in APAC Report 2026. Laporan ini mengungkapkan pergeseran mendasar dalam influencer marketing di seluruh kawasan. Influencer marketing di Asia telah berevolusi dari sekadar penggerak upper-funnel menjadi penggerak hasil (outcome-driver) pada tahun 2025. Influencer semakin terbukti mampu memengaruhi kepercayaan, niat beli, dan hasil commerce yang terukur, alih-alih hanya berfungsi sebagai sarana kesadaran merek di tahap awal.

Laporan ini disusun berdasarkan data pihak pertama dari AnyTag, yang mencakup hampir 7.000 kampanye influencer marketing dan lebih dari 1,1 juta influencer di 10 pasar Asia-Pasifik, termasuk Kamboja, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Berdasarkan aktivitas influencer marketing sepanjang tahun 2025 dan analisis longitudinal terhadap kampanye yang dilakukan sejak 2023, merek semakin banyak melibatkan influencer sebagai mitra performa (performance partners) di sepanjang perjalanan pengambilan keputusan konsumen. Hal ini mencerminkan meningkatnya tekanan untuk mengoptimalkan ROI dan memberikan justifikasi terhadap investasi pemasaran.

Influencer marketing berbasis performa menjadi norma baru

AnyMind Influencer Marketing 2026 Report

Gambar 1: Pertumbuhan Kampanye Performance vs. Awareness di APAC


Meskipun kampanye yang berfokus pada awareness merek tetap mendominasi aktivitas secara keseluruhan, kampanye berbasis hasil di APAC tumbuh stabil selama tiga tahun terakhir. Tahun 2025 menjadi tahun akselerasi yang nyata, di mana kampanye ini mencapai 42,47% dari total aktivitas pemasaran influencer yang terlacak, naik dari 30,67% pada tahun 2024 dan 28,24% pada tahun 2023. Indonesia terus memimpin pergeseran ini di kawasannya, dengan angka dominan sebesar 73,89% kampanye yang berfokus pada hasil terukur di tahun 2025.

Pergeseran ini menggarisbawahi bagaimana merek semakin memanfaatkan influencer untuk mendorong engagement, consideration, dan potensi konversi hilir yang terukur. Hal ini menandakan transisi besar dari influencer marketing sebagai saluran visibilitas semata menjadi saluran yang terintegrasi dengan tujuan commerce dan performa.

Lidyawati Aurelia, Country Manager, Indonesia, AnyMind Group, mengatakan: “Melihat landscape unik di Indonesia, influencer kini menjadi katalisator utama dalam perjalanan belanja masyarakat, mulai dari discovery hingga checkout. Mereka bukan lagi sekadar alat ‘iklan’, tapi sudah menjadi bagian dari infrastruktur penjualan itu sendiri. Laporan kami mengonfirmasi bahwa brand yang sukses adalah mereka yang berani menyelaraskan kampanye influencer dengan target performa yang terukur, memanfaatkan kepercayaan tinggi konsumen lokal terhadap konten video pendek untuk menghasilkan pertumbuhan bisnis yang konkret”

TikTok memperkuat peran sebagai platform creator berbasis performa, namun strategi tetap spesifik di tiap pasar


AnyMind AnyTag Influencer Marketing 2026 Report

Gambar 2 : Distribusi platform kampanye pemasaran influencer di APAC


Dinamika platform di tahun 2025 semakin memperkuat pergeseran menuju influencer marketing yang berbasis performa. TikTok muncul sebagai platform influencer yang dominan di APAC Tenggara, menyumbang 66,0% kampanye influencer di Thailand, 64,3% di Filipina, dan 62,9% di Vietnam. Hal ini mencerminkan kekuatan platform tersebut dalam penemuan konten berdurasi pendek, keterlibatan berbasis hiburan, dan hasil yang berorientasi pada tindakan (action-oriented outcomes).

Di saat yang sama, pemilihan saluran tetap sangat spesifik di tiap pasar. Di Malaysia, kampanye terdistribusi lebih merata, dengan Instagram menyumbang 47,7% aktivitas influencer dan TikTok menyusul tipis di angka 44,4%. Tren adopsi TikTok ini juga mulai terlihat jelas di pasar seperti Jepang, di mana penggunaan platform ini untuk kampanye meningkat 16,3% pada tahun 2025, tahun di mana TikTok Shop resmi diluncurkan di Jepang.

Meskipun TikTok naik pesat, Instagram tetap menjadi platform utama yang tak terbantahkan untuk influencer marketing di beberapa pasar APAC. Di Jepang, Instagram masih menguasai mayoritas aktivitas sebesar 56,4%. Dominasi ini bahkan lebih nyata di Taiwan, di mana platform tersebut menyumbang 57,7% kampanye, dibandingkan dengan 45,3% di Hong Kong yang memiliki bauran platform yang lebih beragam.

Di Indonesia, influencer marketing telah menjadi persaingan dua pemain besar. TikTok dan Instagram secara kolektif mendominasi pasar dengan menyumbang 98,9% dari seluruh aktivitas kampanye. Hampir tidak adanya platform lain seperti YouTube atau X menonjolkan satu kebenaran konsumen yang nyata: video berdurasi pendek adalah satu-satunya instrumen yang paling berpengaruh.

Seiring matangnya influencer marketing, berbagai merek semakin mengintegrasikan kampanye kreator dengan strategi performa dan perdagangan yang lebih luas. Hasil berbasis engagement dan klik menyoroti bagaimana influencer mendorong tindakan terukur yang membentuk pertimbangan dan keputusan pembelian, guna mendukung strategi pemasaran yang lebih informatif dan efisien.

Latest News